Di postingan sebelumnya saya tlah menulis tentang pertarungan antara jin dan manusia,sekarang saya akan mencoba menulis tentang Perkawinan Antara Jin Dan Manusia..
Selamat membaca dan semoga bermanfaat..Amiiiiiin..
chek this out..hehehehe
Ahmad.Ia seorang yang istimewa. Mudah keluar air
matanya bila mengingat Allah dan merasakan hal-hal yang menyentuh
hatinya, sering basah matanya dalam shalatnya, sudah tidak mencintai
dunia (uang, materi dan selera). Bila pun punya uang, selalu bukan buat
dirinya, tapi untuk orang lain yang lebih memerlukannnya. Hatinya
bersih. Kuat tidak tidur dan tidak makan berhari-hari. Tidak takut oleh
manusia, siapapun, bila menyangkut kebenaran yang ia bela. Ia orang yang
tauhidnya terjaga dan sangat dekat dengan Allah SWT melebihi kaum
Muslimin umumnya. Ia seorang mukasyafah sehingga biasa berdialog dengan
ruh mursyidnya yang sudah meninggal. Tentu, kemampuannya luar biasa. Ia
orang yang sudah sangat spiritual. Dalam cerita ini, semua nama yang
saya sebutkan, bukan nama aslinya.
Ahmad sudah hampir setahun,sejak mengalami kasyaf
(tersibaknya alam ruhani atau tabir spiritual) biasa berdialog dengan
gurunya bernama Syekh Habib Syarwani, yang sudah wafat 10 tahun yang
lalu. Syekh Habib semasa hidupnya adalah seorang ulama hikmah, dikenal
sebagai guru spiritual, seorang mukasyafah, seorang penasehat agama dan
kebenaran yang terpercaya. Syekh Habib dipercaya sebagai wali dengan
kehebatan karomah-keromahnya. Ia tidak mau meramal-ramal seperti dukun
atau ahli hikmah lainnya. Tauhidnya lurus kepada Allah SWT. Semua
kalangan dari orang biasa hingga orang-orang pentingnya mengakuinya
sebagai guru, penasehat yang tajam, lurus dan menyentuh. Syekh Habib
memiliki ilmu hikmah yang luar biasa.
Sejak Ahmad menjadi kasyaf, ruh gurunya terus membimbing hidupnya
secara ruhani. Menurut Ahmad, suatu malam, ruh gurunya didampingi
beberapa muridnya di alam sana, menawarinya sesuatu: “Ahmad, ini ada Jin
Muslim diantara kita, namanya Syekh Maulawi. Ia berumur 400 tahun. Ia
mempunyai putri namanya Fatimah, umurnya 200 tahun. Fatimah masih gadis.
Syekh Maulawi tertarik padamu, pada keshalehanmu dan kekuatanmu dalam
memeluk agama. Kami semua disini menawarkan padamu untuk menikahi
Fatimah binti Maulawi. Bagaimana pendapatmu? Silahkan fikirkan dan
pertimbangkan.”
Tentu Ahmad kaget luar biasa. “Menikah dengan jin?” Tidak pernah
terbayang sedikitpun sebagai murid Syekh Habib Syarwani kemudian akan
dinikahkan dengan jin. Ini sangat mengagetkan dan sama sekali baru
mengalami tawaran seperti ini. Mendengar pun, pernikahan antar manusia
dan jin, belum pernah. Mau menolak, ia sangat takzim pada Syekh sebagai
gurunya lahir batin sejak hidupnya. Menyatakan mau juga tidak terbayang
bagaimana jadinya dan nantinya. Dalam kebingungannya, ia mendesah:
“Menurut Syekh bagaimana?”
“Ini hanya tawaran. Bersedia syukur, tidak pun tidak apa-apa.”
“Menurut Islam bagaimana? Saya kan manusia.” Tanya Ahmad lagi ingin tahu bagaimana dari sudut hukum agama.
“Tidak ada larangan.” Jawab gurunya kalem.
Pikiran Ahmad masih terus diliputi kebingungan. Selama berbulan-bulan
sejak ia bisa berdialog dengan gurunya tersebut secara ruhani, Ahmad
sudah terbiasa melihat jin. Oleh jin-jin kafir yang buruk rupa, yang
wajahnya semrawut, tidak beraturan, sering sekali menggoda perjalanannya
agar niatnya menemui dan berguru kepada Syekh Syarwani mundur, batal
dan tidak jadi. Ini adalah ujian beratnya. Ia harus mengalahkan
godaan-godaan makhlus halus itu. Awalnya, kaget luar biasa dan sangat
takut ketika ia mampu melihat sosok jin-jin itu. Ada yang menertawakan
perjalannya sambil bergelantungan di sebuah pohon di tengah malam, ada
yang menghalangi jalan kakinya, ada yang menumpangi motor yang
dikendarainya di jok belakang, ada yang menebarkan bau busuk, ada yang
menyerupai wanita cantik dan telanjang bulat mengajaknya bersetubuh, ada
yang menirukan suara ibunya atau istrinya memanggil-manggilnya ketika
sedang berjalan. Semua itu terjadi antara jam 11.30 malam hingga jam
04.00 subuh ketika ia sering berjalan kaki ke sebuah tempat pertemuan
dengan gurunya.
Lama-kelamaan matanya jadi biasa dan tidak kaget melihat jin-jin
penggoda itu. Mereka selalu muncul setiap malam di tengah perjalanan
ketika Ahmad menemui gurunya di tempat tersebut. Mereka menggoda dan
menakut-nakutinya. Oleh keyakinannya kepada Allah, Ahmad tidak takut
bahkan semakin berani mengusirnya dan bahkan sering menantangnya untuk
tarung karena kesal. Kebanyakan jin-jin penggoda itu kabur, mangpret,
ngacir ketakutan setelah dibacakan ayat-ayat Qur’an seperti ayat kursi.
Tetapi, bukan hanya jin kafir yang buruk-buruk rupa itu yang dia lihat.
Sering juga jin-jin Muslim menyapanya. Mereka ini sosoknya lain.
Tubuhnya ada yang wangi, bersih, tampan dan cantik, tapi ukurannya
tinggi-tinggi dan besar-besar. Umurnya ratusan tahun. Ada yang sedang
memegang tasbih berdzikir kepada Allah, ada yang sedang khusyu beribadah
dan sebagainya. Melihat mereka, Ahmad sudah biasa. Tetapi, ditawari
menikahi dengan jin yang berbeda jasad, beda dunia, beda alam, sama
sekali tidak terbayangkan olehnya.
Akhirnya bakti dan hormat pada gurunya mengalahkan keraguan dirinya.
Bagi Ahmad, Syekh Habib Syawani di alam ruh, atas izin Allah, masih
mengajarkan ilmu dan telah membukakan kasyafnya, yang membuatnya bisa
melihat dan berdialog langsung dengannya. Ahmad akhirnya menyatakan siap
dengan hati bulat, ikhlas dan pasrah. Singkat cerita, proses pernikahan
pun dilangsungkan. Disaksikan gurunya dan ruh-ruh yang hadir, dengan
suasana sangat khidmat, Ahmad dinikahkan dengan Fatimah binti Maulawi,
seorang gadis jin Muslimah, berumur 200 tahun. Mas kawinnya, cukup hanya
membaca surat Al-Fatihah. Mertuanya bernama Syekh Maulawi adalah jin
yang sangat dihormati di kalangan jin Muslim di alamnya. Resmilah mereka
sebagai pasangan suami istri.
Bagaimana gambaran dan kesan Ahmad tentang Fatimah, istrinya di alam
jin itu? Ia menceritakannya kepada saya. “Ia memakai kerudung dan masya
Allah cantiknya luar biasa. Tubuhnya harum. Tingginya sekitar 4 meter.
Setelah nikah, saya memangilnya ummi, dia memanggil abi. Sikapnya
tawadhu luar biasa kepada suami, bahasanya santun, sifatnya halus dan
kecantikannya belum pernah saya lihat pada manusia. Saya belum pernah
melihat wajah secantik itu.”
Beberapa hari dari itu, Ahmad bercerita tentang bulan madunya.
Walaupun tinggi Fatimah sekitar 4 meter, tapi ketika berfungsi sebagai
istri dan menemui suaminya, ia merubah ukurannya menjadi ukuran manusia
biasa, normal. Suatu saat, Ahmad memulai ceritanya, ia diajak Fatimah
berjalan-jalan, berkeliling ke alamnya. Alam jin tidak jauh berbeda
dengan alam manusia. Ada pengajian, ada sekolah, kampus, masjid dan
bangunan-bangunan lain. Sama dengan manusia, mereka memiliki peradaban.
Tapi, itu peradaban jin. Bedanya, bentuknya aneh-aneh, berbeda dengan di
alam manusia. Ahmad sangat sadar alias bukan mimpi. Selama berkeliling,
perasaannya dipenuhi aneh dan aneh, takjub dan takjub, heran dan heran
atas apa yang dialaminya di alam yang berbeda. Akhirnya ia tiba di
sebuah rumah, tentu rumahnya Fatimah. Tinggi, luas, bentuknya aneh,
tidak seperti rumah yang ada di alam manusia. Kamar Fatimah harum dan
bersih. “Barang-barang” tertata rapih. Di atas tempat tidur, mereka
ngobrol dan bercumbu. Selain sangat cantik, tubuh Fatimah tercium harum
dan bercahaya. Maklum ia jin yang taat ibadah. Singkatnya, aneh juga,
Ahmad merasakan kepuasan persis seperti dengan manusia, bahkan lebih.
Kata Ahmad, Fatimah tidak akan pernah hamil. Persenggamaan jin dan
manusia tidak akan mengasilkan kehamilan, karena perbedaan zat makhluk.
Manusia fisik, jin non fisik alias makhluk ghaib.
Sejak itu, kata Ahmad, Fatimah selalu datang dimana Ahmad
memerlukannya. Ngobrol berdua dengan penuh santun dan etika sebagai
istri yang shaleh, sun tangan, menunduk dan tidak pernah bersuara keras.
Saling mengingatkan beribadah kepada Allah. Saling menasehati untuk
sabar dalam menghadapi masalah masing-masing. Tidak ada suasana sedikit
pun dari Fatimah mendominasi Ahmad dari istri aslinya yang manusia,
yaitu istri pertamanya. Bahkan, dalam banyak kesempatan, Fatimah selalu
mendorong Ahmad untuk harmonis dengan istrinya dan anak-anaknya,
menyayangi dan memperhatikan keluarga. Kehadiran Fatimah, tidak
sedikitpun menggangu keberadaan keluarga Ahmad karena tidak ada nafkah
yang harus dikeluarkan, tidak ada waktu yang terambil. Nafkahnya paling
do’a. Perhatiannya bukan bentuk fisik, tapi ruhani. Kemana Ahmad pergi,
Fatimah bisa dipanggil dan datang, atau ia yang datang sendiri. Makanan
Fatimah sebagai jin Muslim dan makhluk adalah saripati-saripati makanan.
Pernikahan itu kini sudah berumur dua tahun lebih. Hingga sekarang
tetap saja rukun dan damai. Ahmad merasa sangat bahagia, demikian juga
Fatimah. Kepada istri pertamanya, Ahmad tidak pernah menceritakan
peristiwa poligaminya ini karena tidak perlu dan tidak akan
dimengertinya. Toh keluarga tidak terganggu sedikitpun. Ahmad dan
Fatimah hingga saat ini, keduanya adalah murid Syekh Habib yang sampai
sekarang sering hadir dalam pengajian yang berisi nasehat-nasehat
gurunya tersebut, tentu pengajian secara ruhani, yang orang awam seperti
kita tidak bisa melakukannya.
Penutup
Demikianlah, menikah dengan jin bisa terjadi, tapi bukan syari’at dan
tidak dianjurkan oleh agama. Tidak perlu dicontoh, apalagi menikahnya
dengan tujuan-tujuan sesat seperti dilakukan sebagian orang yang
menginginkan kekayaan, kesaktian, kekebalan dll. Ahmad maupun Fatimah
dalam peristiwa di atas, keduanya tidak menginginkan, merencanakan dan
membayangkannya sama sekali. Ahmad bersedia karena ditawari gurunya,
Fatimah karena tawaran Bapaknya, Syekh Habib Maulawi. Pernikahan mereka
dilandasi agama dan tauhid kepada Allah SWT. Tidak ada kemusyrikan
didalamnya, tidak atas dasar lain-lain. Itu takdir saja dari Allah SWT.
Tanpa izin-Nya, segala sesuatu tidak akan terjadi.
Nama-nama yang di gunakan di atas bukan nama asli (samaran).